Pementasan Jathilan "Turangga Mudha Among Setyo" dalam Pagelaran Budaya Desa Srimulyo

20 April 2017 13:04:05 WIB

Piyungan, (Srimulyo Post),- Bertempat di halaman Pendopo Joglo Desa Srimulyo pada tanggal 16 April 2017, pagelaran seni tradisional Jathilan ini terselenggara dengan baik. Sebagai acara pembuka dalam rangkaian acara Gelar Budaya Desa Srimulyo, pagelaran Jathilan ini cukup menarik penonton yang sangat banyak. Antusias penonton sudah terlihat sejak pukul 13.30 WIB. Mereka memadati halaman dan pendopo joglo kelurahan. Sebagian besar dari mereka menikmati pertunjukan Jathilan dengan duduk di tikar yang telah disediakan panitia penyelenggara.

Tepat pukul 14.00 WIB pertunjukan jathilan dimulai. Bunyi-bunyian yang khas sebagai pengiring Jathilan telah ditabuh pemainnya. Tak tanggung-tanggung grup Jathilan ini memang dipilih oleh Dukuh Kaligathuk Supriyanto untuk ikut memeriahkan acara. Supriyanto menjelaskan, kalau grup pemain Jathilan ini telah berusia puluhan tahun, dan para pemainnya pun sudah banyak yang berusia lanjut. Gerakan jathilan yang diperagakan pun memang masih murni gerakan jathilan pada jaman dahulu. Lebih lanjut Supriyanto menjelaskan bahwa pemain jathilan dalam grup ini terbagi menjadi dua, yakni grup pertama adalah pemain yang sudah lanjut usia yang disebut sebagai jathilan klasik.Usia dari kelompok Jathilan klasik ini sudah lebih dari 40 tahun. Kemudian grup kedua yang dibawa oleh beliau adalah pemain jathilan yang masih muda-muda atau lebih dikenal sebagai grup Jathilan kreasi. Grup Jathilan kreasi ini berusia lebih dari 20 tahunan,mereka terbentuk pada tahun 1995. Jathilan kreasi ini telah banyak melakukan improvisasi gerakan dalam pertunjukannya.

Dukuh Kaligathuk juga menjelaskan bahwa kedua grup pemain Jathilan ini tergabung dalam satu wadah yang diberi nama Jathilan “Turangga Mudha Among Setyo”. Seni Jathilan memang cukup mempunyai ciri khas yang unik dimana para penari bisa kesurupan atau dalam bahasa jawa nya disebut “ndadi’. Seni pertunjukan jathilan ini diawali dengan tarian khas jathilan oleh bapak-bapak yang sudah berusia lanjut kemudian baru disusul oleh pamain jathilan kreasi.

Dikutip dari sumber borosucijathilan.wordpress.com Jathilan adalah kesenian yang telah lama dikenal oleh Masyarakat Yogyakarta dan juga sebagian Jawa Tengah. Jathilan juga dikenal dengan nama kuda lumping, kuda kepang, ataupun jaran kepang. Tersemat kata “kuda” karena kesenian yang merupakan perpaduan antara seni tari dengan magis ini dimainkan dengan menggunakan properti berupa kuda-kudaan yang terbuat dari anyaman bambu (kepang). Ada beberapa cerita awal sejarah mengenai jatilan. Versi pertama menceritakan jatilan adalah kesenian yang mengisahkan perjuangan Raden Patah dibantu Sunan Kalijaga dalam melawan penjajahan Belanda. Sebagaimana yang kita ketahui, Sunan Kalijaga adalah sosok yang acap menggunakan budaya, tradisi dan kesenian sebagai sarana pendekatan kepada rakyat, maka cerita perjuangan dari Raden Patah itu digambarkan kedalam bentuk seni tari jathilan. Versi terahkir adalah jatilan merupakan cerita  Panji Asmarabangun, yaitu putra dari kerajaan Jenggala Manik. Tatkala yang disampaikan adalah cerita mengenai Panji Asmarabangun, maka penampilan para penaripun menggambarkan tokoh tersebut, baik aksesoris pun gerakannya.   Sebagai contoh aksesorisnya adalah mengenakan gelang tangan, gelang kaki, ikat pada lengan, kalung, menyengkelit keris, dan tentu saja mengenakan mahkota yang acap disebut “kupluk Panji.

Dikutip dari website gedangsari.com, beberapa versi juga mengatakan bahwa kesenian Jathilan mempunyai tiga versi, yakni versi kerajaan Bantarangin, versi kerajaan Mataram, dan versi Pangeran Diponegoro. Versi kerajaan Bantarangin menceritakan konon, tari kuda lumping adalah tari kesurupan. Ada pula versi yang menyebutkan, bahwa tari kuda lumping menggambarkan kisah seorang pasukan pemuda cantik bergelar Jathil penunggang kuda putih berambut emas, berekor emas, serta memiliki sayap emas yang membantu pertempuran kerajaan bantarangin melawan pasukan penunggang babi hutan dari kerajaan lodaya pada serial legenda reyog abad ke 8.Lain halnya dengan versi Kerajaan Mataram, versi ini menyebutkan bahwa tarian jathilan ini mengisahkan tentang prajurit Mataram yang sedang mengadakan latihan perang (gladhen) dibawah pimpinan Sultan Hamengku Buwono I, guna mengadapi pasukan Belanda. Versi terakhir menurut versi pangeran Diponegoro konon katanya versi ini menyebutkan bahwa tari kuda lumping yang menggunakan properti kuda tiruan terbuat dari bambu berawal dari sebuah bentuk apresiasi serta dukungan rakyat terhadap pasukan berkudanya Pangeran Diponegoro, dimana pasukan berkuda tersebut teramat gigih melawan penjajahan Belanda. Waktu penjajahan itu, kesenian tari jathilan ini sering kali dipentaskan di dusun – dusun terpencil, selain sebagai hiburan ternyata pementasan jathilan ini juga digunakan sebagai media menyatukan rakyat demi melawan penindasan. Begitulah beberapa versi sejarah yang mengungkapkan tentang seni tradisi pertunjukan Jathilan. Terlepas dari kebenarannya cerita jathilan ini fakta atau hanya sekedar mitos, tentunya kita sebagai generasi penerus bangsa harus dapat melestarikan kebudayaan nasional dan tradisional yang berada di Indonesia. ( Mita Ayu Kusuma )

Belum ada komentar atas artikel ini, silakan tuliskan dalam formulir berikut ini

Formulir Penulisan Komentar

Nama
Alamat e-mail
Komentar
 

Layanan Mandiri


Silahkan datang / hubungi perangkat desa untuk mendapatkan kode PIN Anda.

Masukan NIK dan PIN

Komentar Terkini

Info Media Sosial

FacebookTwitterGoogle PlussYoutube

Lokasi Srimulyo

tampilkan dalam peta lebih besar

Statistik Pengunjung

Hari ini
Kemarin
Jumlah pengunjung

© 2006-2017 Aplikasi Sistem Informasi Desa (SID) yang digunakan dalam situs ini dibangun oleh Lumbung Komunitas dari  COMBINE Resource Institution sejak 2009.
Sistem ini dikelola dengan merujuk pada lisensi GNU GENERAL PUBLIC LICENSE Version 3